Upload Video TikTok ala Tukang Siomay
WOI WARGA TIKTOK, hari ini saya mau upload video di TikTok dulu, jangan ditanya kenapa, karena kalau ditanya nanti saya jawab “ya begitulah kehidupan, kadang dikukus kadang direbus” 😭
Jadi ceritanya saya bikin video TikTok, niat awal cuma mau upload biasa, eh pas diedit malah jadi kayak siomay keliling kena angin barat. Musik masuk, caption masuk, muka juga masuk walaupun sedikit karena kamera depan ternyata lebih jujur daripada mantan.
Videonya sudah siap bosku. Tinggal pencet upload, tapi sebelum upload ada ritual penting: cek caption, cek sound, cek muka, cek harga cabai, cek apakah hidup masih ada harapan. Semua dilakukan dengan profesionalitas tukang siomay jam sebelas siang yang gerobaknya belum balik modal.
Kalau videonya muncul di FYP kalian, berarti algoritma sedang tidak waras. Jangan langsung scroll, kasih like dulu, komen “siomay satu pedes” biar saya merasa dihargai sebagai manusia digital. Kalau tidak suka juga gapapa, komen saja “BATAGOR” supaya engagement tetap jalan. Yang penting jangan komen “jualan apa?” karena saya sendiri juga tidak tahu.
TikTok ini memang aneh ya. Kita upload video 30 detik, edit dua jam, mikirin caption setengah hari, terus views cuma 17. Lima belas di antaranya kita sendiri karena penasaran siapa yang nonton. Dua sisanya mungkin keluarga yang salah pencet. Tapi kita tetap semangat, karena kesuksesan itu bukan tentang berapa views, melainkan tentang berapa kali kita bilang “ah upload lagi besok” lalu besoknya lupa.
Bahasa saya hari ini memang campur aduk, Indonesia sedikit, Inggris dikit, logika hilang banyak. Karena kalau semuanya harus formal, nanti bukan konten TikTok namanya, tapi surat edaran kecamatan. Kita di sini santai saja, seperti tukang siomay ngomong sambil ngipas dagangan: “Ayo neng, siomaynya satu, kentangnya dua, sausnya jangan kebanyakan, hidup sudah cukup pedas.”
Untuk kalian yang baru nemu video ini, selamat datang di kerajaan algoritma. Di sini tidak ada kepastian. Video bagus belum tentu ramai. Video absurd bisa meledak. Orang joget sambil berdiri di dapur bisa viral. Orang menjelaskan sesuatu dengan serius malah ditonton tiga orang, salah satunya akun bot dari Kazakhstan. So, we keep going.
Kalau nanti video ini viral, saya akan pura-pura kaget. Kalau tidak viral, saya juga pura-pura tidak peduli. Padahal malam-malam buka analytics sambil berkata, “Kenapa retention turun di detik tujuh?” Seolah-olah saya CEO TikTok cabang warung siomay.
Pokoknya silakan ditonton, like kalau berkenan, share kalau ada manfaat, save kalau takut kehilangan, dan follow kalau mau melihat kekacauan berikutnya. Jangan lupa komen juga, karena komentar kalian adalah bensin untuk motor kreativitas saya. Kalau tidak ada komentar, motor saya mogok di depan gang.
Akhir kata, upload dulu, mikir belakangan. Karena kadang konten tidak perlu sempurna, yang penting sudah naik. Hidup juga begitu: tidak selalu harus rapi, yang penting jangan lupa bayar cicilan dan jangan lupa makan.
Sekian pengumuman dari saya, tukang siomay digital yang dagangannya bukan siomay, tapi video. Kalau ketemu di FYP, jangan malu-malu. Sapa saya dengan sopan: “Bang, siomay satu, tapi videonya mana?”
Terima kasih sudah membaca caption sepanjang jalan tol ini. Kalau sampai habis, berarti kamu lebih sabar daripada saya menunggu video tembus FYP.
Videonya sudah siap bosku. Tinggal pencet upload, tapi sebelum upload ada ritual penting: cek caption, cek sound, cek muka, cek harga cabai, cek apakah hidup masih ada harapan. Semua dilakukan dengan profesionalitas tukang siomay jam sebelas siang yang gerobaknya belum balik modal.
Kalau videonya muncul di FYP kalian, berarti algoritma sedang tidak waras. Jangan langsung scroll, kasih like dulu, komen “siomay satu pedes” biar saya merasa dihargai sebagai manusia digital. Kalau tidak suka juga gapapa, komen saja “BATAGOR” supaya engagement tetap jalan. Yang penting jangan komen “jualan apa?” karena saya sendiri juga tidak tahu.
TikTok ini memang aneh ya. Kita upload video 30 detik, edit dua jam, mikirin caption setengah hari, terus views cuma 17. Lima belas di antaranya kita sendiri karena penasaran siapa yang nonton. Dua sisanya mungkin keluarga yang salah pencet. Tapi kita tetap semangat, karena kesuksesan itu bukan tentang berapa views, melainkan tentang berapa kali kita bilang “ah upload lagi besok” lalu besoknya lupa.
Bahasa saya hari ini memang campur aduk, Indonesia sedikit, Inggris dikit, logika hilang banyak. Karena kalau semuanya harus formal, nanti bukan konten TikTok namanya, tapi surat edaran kecamatan. Kita di sini santai saja, seperti tukang siomay ngomong sambil ngipas dagangan: “Ayo neng, siomaynya satu, kentangnya dua, sausnya jangan kebanyakan, hidup sudah cukup pedas.”
Untuk kalian yang baru nemu video ini, selamat datang di kerajaan algoritma. Di sini tidak ada kepastian. Video bagus belum tentu ramai. Video absurd bisa meledak. Orang joget sambil berdiri di dapur bisa viral. Orang menjelaskan sesuatu dengan serius malah ditonton tiga orang, salah satunya akun bot dari Kazakhstan. So, we keep going.
Kalau nanti video ini viral, saya akan pura-pura kaget. Kalau tidak viral, saya juga pura-pura tidak peduli. Padahal malam-malam buka analytics sambil berkata, “Kenapa retention turun di detik tujuh?” Seolah-olah saya CEO TikTok cabang warung siomay.
Pokoknya silakan ditonton, like kalau berkenan, share kalau ada manfaat, save kalau takut kehilangan, dan follow kalau mau melihat kekacauan berikutnya. Jangan lupa komen juga, karena komentar kalian adalah bensin untuk motor kreativitas saya. Kalau tidak ada komentar, motor saya mogok di depan gang.
Akhir kata, upload dulu, mikir belakangan. Karena kadang konten tidak perlu sempurna, yang penting sudah naik. Hidup juga begitu: tidak selalu harus rapi, yang penting jangan lupa bayar cicilan dan jangan lupa makan dan kunjungi gematos.id.
#fyp #foryou #tiktokindonesia #kontenrandom #bahasaacakacak #tukangsiomay #siomay #viral #videorandom #janganserius